Diana Rikasari, Berawal dari Blog Fashion Diary sampai Bangun Brand Fashion International

diana rikasari

Nama Diana Rikasari mungkin tidak asing bagi warganet yang cinta dengan dunia fashion. Perempuan yang memiliki hobi menulis, mengabadikan gambar dan ngeblog ini adalah satu di antara banyak fashion blogger yang sudah melalang buana di industri adibusana international. Kariernya ini dimulai dari kecintaannya dengan dunia fashion yang ia tuangkan ke blog miliknya di http://dianarikasari.blogspot.co.id.

Sejak tahun 2007 sampai saat ini enterpreneur muda yang sering disapa Diana ini aktif menulis untuk blognya. Menulis di blog bukan tanpa sebab, karena ia sendiri memiliki hobi menulis, foto dan desain. Sehingga saat mengenal blog, Diana mulai coba sebagai bentuk ekpresi diri melalui dunia maya. Seperti gayung bersambut ternyata ini malah membuka banyak jalan di dalam setiap hal di hidupnya. Topik seputar fashion dipilih karena dirinya suka mengamati dunia fashion. Tapi uniknya, gaya berbusanannya sendiri terkesan tidak biasa. Malah banyak yang menganggap kalau gayanya terkesan bertabrakan dan berani memainkan warna-warna cerah.

Dengan paduan busana warna cerah, nyentrik, dan gaya penulisannya yang mudah dicerna justru menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya itu saja, pembahasan seputar isu fashion juga membuat blognya semakin banyak menarik pembaca.

Berhasil membangun brand dirinya melalui blog fashion diary, kala itu Diana akhirnya mencoba peruntungan di bisnis e-commerce. Tahun 2011 jadi awal Diana serius merintis bisnis dengan memproduksi produk sendiri. Terjun ke dunia bisnis sebenarnya sudah menjadi mimpi Diana. Pasalnya saat duduk dibangku sekolah dirinya sering membuat sesuatu dan dijajakan ke teman-temannya. Jadi dapat dikatakan memang takdirnya berkecimpung di dunia tersebut.

Merek pertamanya saat itu adalah UP, yang merupakan situs jualan online yang menyediakan fashion wanita. Usaha ini dimulai dengan modal tabungannya selama bekerja di perusahaan multinasional. Di UP Diana menawarkan pilihan alas kaki wanita berupa wadges, heels dan sandal yang memiliki warna, corak dan desain yang unik sesuai dengan ciri khas Diana. Berkat kreativitas dan kemampuan desainnya bisnis ini pun sukses. Mulanya Diana hanya memproduksi sekitar enam sepatu, seiring berjalan waktu permintaan terus bertambah.

Dengan menyasar kaum muda dengan status ekonomi menengah ke atas, sepatu UP di jual dengan rentang harga mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Selain mendapatkan apresiasi yang memuaskan dari konsumen tanah air, cukup mengejutkan ternyata banyak juga pembeli dari beberapa negara lainnya, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Filipina, Meksiko, Rusia hingga Amerika.

Kendala produksi hingga plagiat

Meskipun terbilang sukses, tetap banyak batu sandungan yang dihadapi Diana ketika merintis bisnis ini, seperti perombakan tim produksi. Di mana akibatnya membuat rumah produksi UP harus tutup selama 3 bulan. Diana mengakui bahwa saat itu adalah masa-masa yang paling buruk bagi bisnisnya. Keluhan konsumen yang masuk baik dari pesan pribadi maupun media sosial menurunkan reputasi bisnisnya kala itu.

Selain masalah produksi, kendala lainnya adalah tindakan replika karya yang sering ia temui. Untuk masalah satu ini ia mengatasinya dengan langsung mengkomunikasikan hal terkait penjimplakan tersebut dengan pihak yang bersangkutan. Ada pihak yang langsung merespons, tapi tak jarang ada yang sama sekali tidak mengubris keluhan dirinya.

Setelah iwearup berjalan dengan stabil, Diana tidak puas sehingga mendirikan merek baru bernama PopFlats yang juga menawarkan produk yang sama. PopFlats adalah bisnis keduanya dan bisnis kolaborasi pertama bersama Intan Valentina. Didirikan pada tahun 2013, sepatu flat wanita di sini ditawarkan dengan desain yang segar dan playful. Meski produk yang ditawarkan sama, Diana mengakui bahwa keduanya memiliki perbedaaan. Jika sepatu dengan label iwearup menargetkan perempuan dewasa di atas umur 18-35 tahun, PopFlats lebih memfokuskan konsumen di bawahnya, yaitu 18-25 tahun.

Memulai bisnis tentu perlu adanya strategi, begitu juga dengan Diana. Alih-alih menggunakan strategi marketing khusus, Diana justru memaksimalkan penggunaan media sosial, seperti Twitter dan Instagram. Kedua media sosial itu ungkapnya sangat efektif dan efesien karena dapat langsung berinteraksi dengan para followers dan pembeli. Dengan melalui akun media sosial masing-masing UP dan PopFlats terus memberikan informasi terbaru mengenai gaya dan pilihan produk untuk menarik pembeli.

Ambil Risiko Mulai Bisnis dalam Skala Besar

Berangkat dari pengalamannya menjalankan bisnis sepatu, Diana pun mulai merambah bisnis fashion lainnya, yaitu baju dan tas. Tidak berbeda dari brand sebelumnya, di sini dirinya juga menyematkan karakter pribadi yang menjadi ciri khas Diana. Koleksi busana dan tasnya disematkan desain yang fun dan palyfull. Perpaduan warna yang cerah, fun dan desain yang unik membuat koleksinya terlihat berbeda dari yang lain.

Untuk bisnis clothing line Diana memperkenalkan Schmiley Mo di pertengahan tahun 2016. Bisnis ini jelas berbeda dari sebelumnya. Tantangannya lebih besar, karena skala produksi dan konsepnya sendiri berbeda dari sebelumnya. Sewaktu menjalankan UP dirinya mengaku proses kreatifnya lebih simpel karena timnya sedikit.

Sementara di Schmiley Mo, lebih banyak tim sehingga proses produksinya lebih panjang. Setiap koleksi diakuinya bisa mengeluarkan 40-50 pieces, jadi tidak mungkin hanya ditangani oleh beberapa tim saja. Karena produksi ini bergantung kepada para pekerja, maka Diana sangat hati-hati urusan memanajemen sumber daya para pekerjannya. Demi menjaga loyalitas para pekerja Diana terus meningkatkan visi bisnisnya.

Berkat keunikan, kerja keras dan namanya, bisnis busana yang masih terhitung baru ini bahkan langsung ditampilkan di Malaysia dalam Kuala Lumur Fashion Week (KLFW) 201. Koleksi busana keduanya juga sukses ditampilkan saat Jakarta Fashion Week (JFW) 2017 dan London Fashion Week 2017. Selain itu, Diana juga sedang menjalankan proyek Sun of a Fun dengan produk andalan tas kulit.

Peroleh Setumpuk Penghargaan

Berkat kerja keras dan kreativitasnya, Diana tidak hanya sukses dari segi finansial namun dia juga berhasil mengantongi banyak penghargaan dan pengakuan baik di nasional maupun international. beberapa di antaranya adalah UP berhasil masuk Top 50 UKM berdasarkan majalah Marketeers edisi April 2012 dan juga penghargaan dari British Council untuk International Young Creative Entrepreneur. Diana juga pernah dinobatkan sebagai Top Influencer dalam acara Influence Asia di Singapura pada 2015.

 

SHARE

LEAVE A REPLY