Pengusaha Muda Indonesia Ini Berhasil Bangun Bisnis Kreatifnya dari Nol Hingga Dikenal Dunia

Industri kreatif adalah ranah bagi pengusaha muda di Indonesia. Disejumlah kota besar banyak anak muda yang mengola bisnis kreatif di bidang digital, kuliner, artistic bahkan fashion. Beberapa di antaranya bahkan sampai mengharumkan nama Indonesia lewat torehan penghargaan yang mereka dapatkan. Salah satu contohnya adalah Tex Saverio seorang desainer berwarga negara Indonesia yang salah satu rancangan busananya digunakan oleh penyanyi kenamaan Lady Gaga dan beberapa nama artis dunia.

Dibalik kesuksesannya itu, tentu saja banyak cerita pahit yang dijalani oleh pria yang disapa Rio ini. Salah satunya adalah Rio harus memilih untuk tidak meneruskan sekolah akademik dan mengejar mimpinya untuk menjadi perancang busana. Alih-alih meneruskan sekolah menengah atas, ia malah meminta orang tua untuk pindah ke sekolah fashion.

Dari sini kita dapat dapat mengambil intisari awal, bahwa meskipun sukses di usia muda, sama seperti dengan pengusaha lainnya, pasti ada jatuh bangun yang harus dilalui oleh pengsuaha-pengusaha muda yang kini sudah mencapai kejayaan mereka. Siapa saja pengusaha muda yang berhasil di bisnis kreatif? Berikut GoUKM rangkum 7 pebisnis muda yang kisahnya pasti dapat mengisnpirasi Anda.

Tex Saverio, Desiner fashion Indonesia satu-satunya yang berhasil pameran di Paris Fashion Week

Bermula dari bisnis butik sederhana di bilangan Pluit, pria asal Jakarta ini berhasil menampilkan lini busana ciptannya sampai ke Paris. Namanya mulai terdengar setelah Lady Gaga mengenakan pakaian rancangannya untuk pemotretan majalan fasyen international Harper’s Bazaar Amerika edisi 2011. Pencapaian ini melalui proses yang bisa dibilang cukup panjang. Karena busana rancangan Rio harus melewati beberapa seleksi terlebih dahulu sebelum dipilih oleh Fashion Director Lady Gaga.

Gaun yang dikenakan Lady Gaga berasal dari rancangan Rio yang bertajuk My Courtesan. Koleksi ini pertama ia tampilkan di Jakarta Fashion Week. Tidak disangka ternyata respon positif yang Ia dapatkan. Beberapa hari setelah pementasan, koleksinya dipuji-puji oleh blog fashion terkenal Amerika. Nah, di sinilah peluang suksesnya terbuka. Di mana Fashion Director Lady Gaga membaca artikel dari blog tersebut dan berupaya untuk mengontak Rio.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini sudah mengenal fasyen di usia 17 tahun. Kecintaannya pada industri ini lah yang mendorongnya untuk nekat berhenti sekola di SMA unggulan dan pindah sekolah fasyen. Ternyata nasib baik ada didirinya, kalau saja ia tidak mengikuti kata hatinya, mungkin pencapaiannya saat ini tidak akan diraihnya.

Konsep rancangannya yang unik dan bukan ready-to-wear tidak sesuai dengan pasar di Indonesia. Namun ia memiliki prinsip dalam menciptakan karya ia selalu berusaha untuk jujur terhadap diri sendiri dengan menampilkan apa yang menjadi DNAnya. Oleh karena itu, saat merancang gaun, ia kerap melawan arus sehingga tidak mainstream dengan desainer lainnya. Siapa yang sangka, idenya yang liar, fantasinya yang tinggi terhadap fashion membuat namanya disejajarkan dengan beberapa fashion luar negeri seperti Alexander McQueen.

Bermodal prinsipnya itu pula pada 2006 ia meluncurkan label bersama Saverio. Selain itu, ia juga berupaya untuk mengembangkan namanya dengan mengikuti kompetisi di ajang fashion di dalam dan luar negeri. Beberapa prestasi yang pernah disabetnya adalah  Prix d’Incitation dalam Concours International des Jeunes Créateurs de Mode 2004 di Paris, Finalis Lomba Perancang Mode Femina Group, dan finalis Mercedes-Benz Asia Fashion Award 2006.

Diajeng Lestari, sukses membangun e-commerce busana muslim

Berada di zona aman, dalam artian memiliki pekerjaan dengan gaji yang di atas rata-rata ternyata tidak membuat perempuan berhijab ini betah berlama-lama menjadi karyawan. Diajeng Lestari yang dulunya adalah mantan karyawan di perusahaan International di Indonesia ini memilih untuk bergelut di bisnis e-commerce yang Ia beri nama HijUp. Ide bisnis ini berawal dari pengalamannya yang kesulitan mencari baju muslim untuk kerja. Dari situ ia menyadari peluang untuk menciptakan pasar busana muslim.

Berbekal ide serta kecintaannya terhadap dunia fashion, wanita disapa Ajeng ini memberanikan diri untuk mengambil keputusan membuka bisnis fashion muslim. Ditambah lagi ide ini mendapat dukungan penuh dari suami, Ahmad Zaki yang juga merupakan CEO marketplace online terbesar di tanah air, yaitu BukaLapak.

Online mall busana muslim yang ia dirikan mengusung konsep tempat belanja online yang mewadahi desainer-desainer fashion muslim di Indonesia. Target konsumen yang disasar adalah para perempuan muslimah yang ingin berbelanja online. Berkat usaha Ajeng melobi para perancang, di awal pendirian Hijup berhasil bekerja sama dengan 20 desainer.

Di awal kariernya yang baru dijajalnya ini banyak hambatan yang dihadapi Ajeng, misalnya adalah masalah SDM. Dahulu ia harus mengerjakan segala sesuatu sendirian mulai dari mengajak desainer, kurasi produk, pilih model, foto hingga pengiriman. Setelah memperkerjakan karyawan ternyata itu pun tidak juga membuat dirinya ongkang kaki. Karyawan yang dipekerjakannya secara tiba-tiba mengundurkan diri secara mendadak. sehingga pada akhirnya ia pun menyadari seberapa pentingnya SDM yang kompeten dibidangnya agar Hijup bisa sustainable.

Seiring berjalan waktu, kemampuannya dalam memilih SDM dan desainer semakin terasah. Ia juga kian jeli memilih dan menampilkan produk. Dengan tim yang solid, Ajeng bisa memperkokoh bisnis digitalnya.

Singkat cerita, kini dari e-commerce yang awalnya ia rintis seorang diri dengan bantuan suami sudah sangat berkembang. Saat ini sudah ada puluhan ribu produk yang dijual Hijup. Berbagai produk tersebut dihadirkan dari tenant atau mitra desainer yang bekerja sama dengan Hijup mencapai 265.

Dengan tangan dinginnya membesarkan Hijup ia berhasil mendapatkan pengakuan dari luar negeri. Ia juga kerap diundang ke acara-acara bersekala dunia untuk memperkenalkan tren fashion muslim Indonesia. Salah satu event yang sempat disinggahi Ajeng seperti International Fashion Showcase on London Fashion Week pada Februari 2016 lalu dan juga diundang mengikuti program Google Launchpad Accelerator di Mountain View, California, Amerika Serikat.

Abraham Ranardo, Co-founder Mailbird yang usernya mencapai 1.5 juta di seluruh dunia

Kedua nama diatas mungkin Anda sering atau pernah mendengarnya, tapi apakah Anda mengenal pengusaha muda sukses yang satu ini. Abraham Rando adalah salah satu pendiri startup MailBird yang namanya masuk ke dalam daftar 30 pemuda berbakat di Asia menurut majalah Forbes tahun 2016. Startup yang didirikannya menghadirkan aplikasi manajemen yang menghubungkan email dengan daftar pekerjaan, kalender, dan aplikasi pesan instan.

Aplikasi MailBird berfungsi sebagai email client dan juga menyediakan berbagai fitur menarik, salah satunya adalah integrase dengan aplikasi pihak ketiga seperti Evernote, Asana, Calender, dan lain sebagainya. Selain itu, Mailbird juga menambahkan fitur Wingman, di mana dengan fitur ini pengguna Mailbird dapat memiliki asisten personal untuk membantu produktivitas pengguna email.

Karier pria yang disapa Abe ini dimulai pada tahun 2010 di sebuah perusahaan informatika untuk membuat sebuah program untuk perusahaan. Selama bekerja di beberapa perusahaan, keahlian ITnya terus terasah sehingga pada akhirnya ia bersama timnya membuat aplikasi sendiri yang kini malah mengantarkan dirinya menuju kesuksesan. Mailbird yang mereka rintis pada tahun 2012 awalnya hanya memiliki 12 karyawan dan setidaknya sudah mendapatkan 500 ribu pengguna.

Kini, lebih dari 1.5 juta akun sudah terdaftar dan menggunakan aplikasi ini. Tidak hanya itu, MailBird juga telah berhasil menyabet berbagai penghargaan, di antaranya adalah PCWorld 2013 dalam kategori Best Free Stuff, IT World Best Windows Email Client 2014-2015, Windows 10 Download dalam kategori Rising Global Star 2016. Selain itu, pada tahun 2016 MailBird juga menjadi satu-satunya startup yang mewakili Indonesia di babak final kompetisi Start-UP Asia musim kedua yang disiarkan di Channel NewsAsia.

Leonika Sari, mengembangkan aplikasi donor darah yang diapresasi negara luar

Leonika Sari Boedioetomo atau sering disapa Leo merupakan salah satu pengusaha muda yang juga ikut mengharumkan nama Indonesia di bidang teknologi. Di umur 24 tahun, dirinya sudah berhasil mendirikan startup bernama Reblood. Reblood sendiri adalah aplikasi dengan misi kemanusian yang bertujuan untuk dapat mempermudah pencarian donor darah terutama pada saat emergency.

Konsep aplikasi yang dibangunnya seperti sebuah game, dengan menggunakan sistem penambahan poin bagi pendonor yang sudah menyumbangkan darahnya. Dengan konsep yang sepeti ini tentu tidak akan menarik bila tidak ada goal yang harus dicapai pendonor. Untuk itu, bagi pendonor yang sudah mengumpulkan poin nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah atau reward yang sudah ditentukan.

Sebelum merintis bisnis kreatif di bidang teknologi ini, ia berserta timnya mengaku kalau mereka terlebih dahulu mendalami wawasan mereka. Leo sendiri sudah mendalami entrepreneurship dengan mengikuti online course oleh edX, sebuah kursus bisnis online yang diadakan di Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Selepas mendapatkan beasiswa di MIT, Leo kembali belajar memantapkan ide bisnisnya dengan mengikuti Bootc amp selepas itu melakukan riset ke PMI dan Kementerian Kesehatan Indonesia.

Dari hasil risetnya, Leo mengetahui bahwa di Indonesia sering kekurangan stok kantong darah dalam jumlah jutaan. Dengan bekal permasalahan ini, ia membawanya ke Start-UP Surabaya, sebuah program untuk pebisnis muda yang mau memulai karier entrepreneurnya. Semua aspek yang menyangkut bisnisnya digodoknya sampai matang, sehingga berdirilah Reblood pada tahun 2013 yang ia bangun bersama timnya.

Dengan aplikasi ini, tidak hanya mengatasi persoalan penyediaan kantong darah saja yang bisa di atasi, namun juga pengguna bisa mengetahui informasi tentang manfaat, kepentingan hingga event pendonoran darah yang akan berlangsung. Dengan aplikasi ini, calon donor yang sudah memiliki akun pun mendapat reminder, yang bertujuan untuk mengingatkan mereka untuk mempersiapkan diri 1 hari sebelum pendonoran. berbagai penghargaan telah didapatkan Reblood, di antaranya adalah memenangkan MITx Global Entrepreneurship Bootcamp dari Massachusetts Institute of Technology.

Wira Winata, illustrator yang sukses rampungkan film animasi holywood

Dari hobi, jadi penghasilan inilah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kisah pebisnis kreatif di bidang seni bernama Wira Winata. Pasalnya ia sukses di hobi sejak kecilnya ini berhasil membawanya ke Amerika. Kesuksesannya ini diawali dari rasa kecintaannya pada dunia seni di usia yang masih dini. Tokoh seperti Donal Duck, Supermen, Batman, dan Flash Gordon adalah objeknya menggambar saat masih duduk di bangku sekolah.

Namun pada saat itu, orang di sekitar Wira menganggap kalau profesi sebagai seniman itu tidak akan bisa menghasilkan apa-apa. oleh sebab itu mengapa sewaktu berkuliah ia memutuskan untuk mengambil jurusan manufacture engineering di Nanyang Polytechnic Singapura. Tapi hobinya ini terus ia lakukan alhasil ada salah satu dosen yang melihat bakatnya dan menyarankannya untuk mengambil jurusan industrial atau desain produk. Setelah lulus, ia pun berminat untuk melanjutkan kuliahnya di jurusan desain produk di Art center College of Design di Pasadena Amerika.

Dari sanalah ia bertemu dengan rekannya Mike Frantum, Joey Jones, dan Jason Du yang berujung untuk membuat sebuah proyek film pendek animasi pada tahun 2000. Proyek ini mereka jalankan dengan bantuan orang-orang yang sering berada di balik studio animasi seperti Disney, Dreamworks dan juga Blizzard. Kemudian setelah sukses, pada tahun 2001 mereka bertiga sepakat untuk mendirikan Shadedbox yang merupakan perusahaan studio animasi di Amerika.

Di bawah perusahaan yang meraka bangun bersama tercipta film The little Red Plane. Film ini berhasil mendapatkan beberapa penghargaan seperti Student Emmy Award dan Dances with Films, serta piala kristal di Festival Film Heartland. Dan yang tidak kalah membanggakannya lagi, film The Little Red Plane juga ditayangkan secara khusus di Festival Film Cannes. Dari sanalah Shadebox berkenalan dengan industri komersial. Shadebox mulai menggarap berbagai macam proyek iklan dan video game. wira juga mendapat tawaran menggarap beberapa film animasi Hollywood seperti The Peanuts Movie.

Gusti Aditia Rakhman, aksesoris Rock n Roll yang tembus pasar International

Gusti Aditia Rakhman atau yang biasa disapa Adit adalah Alumnus Desain Komunikasi Visual di Modern School of Design Yogyakarta. Ia dikenal sebagai pebisnis aksesoris berbahan metal yang bertempat di Pontianak. Produk conduct metalworks berupa cincin yang bertemakan rock n roll, kalung kepala sabuk dan kancing dari bahan kerajinan logam pewter yang didatangkan dari Jawa, Pulau Bangka bahkan Amerika Serikat ini menghasilkan omzet yang besar.

Hal ini karena selain diterima di pasar Indonesia, ternyata produk kerajinan ini diterima di berbagai negara luar, seperti Amerika, Spanyol, Italia serta Kanda. Awalnya Adit menawarkan produknya melalui media online Instagram. Selang beberapa bulan pemasaran, tidak disangka ia dihubungi oleh Mike Ficner yang merupakan salah satu petinggi dalam komunitas Bearded Villains.

Melalui Mike, Adit bisa pergi ke Amerika, tepatnya Chicago dan membuat aksesoris untuk komunitasnya. Pada mulanya Adit tidak menetapkan ekspektasi yang tinggi. Tapi dimulai dari sini, produknya mulai terkenal ke belahan dunia lainnya. Pelanggan Adit bertambah tidak hanya di Amerika, ia mulai menerima pesanan dari Afrika dan juga Malaysia.

Untuk produk metalwork ia hanya membuat sekitar 10-15 item. Respon dari para peminatnya sangat positif. Bahkan kini ia mengklaim bahwa per bulannya ia bisa mengantongi omzet hingga puluhan juta per bulan dan kabarnya ia juga berniat untuk membuka outlet di Jerman.

Ria Papermoon, bisnis teater boneka hingga keliling dunia

Di tangan dingin perempuan bernama lengkap Maria Tri Sulistiyani Boneka seperti memiliki nyawa sama halnya manusia. Gabungan music, set panggung dan acting para boneka berhasil menghipnotis penontonnya. Berdiri pada 2006, pertunjukan teater boneka berhasil Ria tampilkan di berbagai negara, seperti Singapura, India, Vietnam, Jepang, India, Korea Selatan, sampai Amerika Serikat.

Ria terjun di dunia teater dimulai sat dirinya menjadi mahasiswa dan masuk komunitas teater. namun kecintaannya dibidang tersebut hanya sebatas sebagai orang di belakang layar bukan sebagai actor. Ria pun akhirnya memutuskan keluar dari kelompok tersebut dan fokus untuk menyelesaikan kuliahnya. Tapi sembari kuliah ia memutuskan untuk bekerja sebagai manajer sekaligus desainer di sebuah studio keramik di Yogyakarta, di tempat ini ia mulai mendalami dunia seni rupa.

Selepas kuliah ia bekerja di sebuah taman kanak-kanak namun tidak lama ia memutuskan untuk keluar dan membuat sanggar anak-anak yang ia bernama Papermoon. Setelah sanggar berjalan selama dua tahun, Ria mengubah formatnya menjadi teater boneka dengan mengawinkan dunia seni rupa dan seni pertunjukan. Berbekal kemampuannya di kedua bidang tersebut maka lahirlah Papermoon Puppet Theatre. Berbagai cerita ditampilkan dalam pertunjukannya ini. Sebagian besar ceritanya mengangkat sejarah atau peristiwa-peristiwa penting lainnya.

Sepuluh tahun setelah berdiri sudah banyak negara yang ia singgahi, seperti Malaysia, Korea, India, jepang, Amerika Serikat, dan Inggris.

Dari berbagai kisah inspiratif dari pengusaha muda yang menggeluti bidang bisnis kreatif di atas kita bisa tarik kesimpulan bila ingin sukses di salah satu bidang jangan pernah takut untuk memulainya sedari muda sekalipun. Ke tujuh anak bangsa Indonesia yang bisnisnya sukses di atas membuktikan bawa usia bukanlah penghalang dalam meraih kesuksesan. Berani mengambil risiko dalam bisnis, karena risiko yang akan membawa kita pada kesuksesan. Dan yang tak kalah penting adalah ikutilah kata hati dalam mengambil setiap keputusan, serta buatlah visi dan misi besar ke depannya.

SHARE
Content writer Goukm.id yang suka ngobrol soal kucing, film, musik, novel teenlit, dan komik. Kontak saya di sucirahmadh@gmail.com atau ig @sucirhmdhanii.

LEAVE A REPLY