Kisah Naya Hijab, Buka Usaha Karena Terbentur Biaya Kuliah

Biaya kuliah yang begitu tinggi ditambah lagi kebutuhan kuliah yang harus dipenuhi membuat Johana memutar otak untuk mencari uang tambahan agar kuliahnya bisa selesai. Sebenaranya wanita kelahiran 12 Juli 1991 ini sudah berkerja sebagai pengajar privat di daerah pondok Indah namun ternyata gajinya dirasa tak mencukupi.

Sehingga dia harus mencari usaha lain, hingga akhirnya lima tahun lalu tepatnya di Bulan Oktober 2011 dia memberanikan diri membuka usaha berjenis handmade aksesoris di kampusnya Universitas Islam Negeri Jakarta.

Dengan modal awal 500 ribu rupiah yang dia dapat dari hasil mengajar dia [un memulai usahanya yang diberi nama Naya hijab Accessories. Uang tersebut kemudian dia belikan bahan-bahan seperti tali sepatu, kain dan lem yang akan dia ubah menjadi handmade aksesoris.

Wanita lulusan S1 Pendidikan Matematika ini kemudian mulai memasarkan produk usahanya di lingkungan terdekatnya yaitu para mahasiswi sekampusnya yang rmengenakan hijab. Biasanya mereka berminat membelinya karena ingin mempercantik penampilan mereka sehingga memerlukan asesoris.

Usaha yang dibangunnya sejak lima tahun lalu ternyata membuahkan hasil. Naya Hijab kini sudah melebarkan sayap, tak hanya laku di kampus tercintanya namun juga sudah melebar hingga mampu membuka cabang di dua kota selain Jakarta, yakni Lampung dan Bengkulu.

Resellernya pun kini banyak dari puluhan butik yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Omsetnya pun meningkat tajam di tahun pertama hanya 50 juta rupiah kemudian naik di tahun kedua 100 juta rupiah dan di tahun kedua hingga tahun kelima ini omsetnya kisaran 200-300 juta rupiah.

Wanita kelahiran Tanggerang ini pun bisa bernafas lega, karena bukan hanya kuliahnya yang selesia namun dia juga mampu membuka lapangan usaha untuk dua puluh orang karyawannya.

Usaha yang dibukanya di Ds. Jatiwaringin RT 001 RW 001 No.33 Kec. Kab. Tangerang ini memang sengaja dibuat berbeda dengan asesoris yang berada di pasaran karena semua produk kami dibuat manual oleh tangan-tangan pengrajin yang terlatih. Material produk dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Produk yang dibuat serta menggunakan material yang berkualitas. Desain yang tidak pasaran dari kebanyakan kompetitor yang menggunakan bahan seperti mutiara dan manik manik. “Kami lebih cenderung menggunakan bahan kain dari berbagai jenis kain untuk berbagai macam produk aksesori.
pemilihan warna disesuaikan dengan tema “pastel color” yang sedang digandrungi oleh pasar,” kata wanita berusia 25 tahun ini.

Dan meski usahanya telah berhasil namun Johana tak mau puas diri, dia harus tetap berusaha mempertahankan usahanya karena saat ini kompetisi semakin tinggai sehingga dia harus pintar pintar mencari pasar baru di daerah tertentu demi kelangsungan usahanya.

SHARE
Mengawali karir dari lembaga Pers Mahasiswa. Bergabung denga tim riset untuk menulis berbagai buku. Hobi Photography punya Moto Hidup “Berbagi itu Kesenangan”

LEAVE A REPLY