Membuka Usaha Risoles Cempluq Karena Jenuh Berkerja

Sebelas tahun berkecimpung di profesi yang sama ternyata membuat jenuh Eni Sri Rahayu merasa jenuh. Kesehariannya yang berkutat di bidang akutansi dan audit pada salah satu perusahaan di Surabaya dan Madiun membuatnya merasa bosan dan kelelahan. Apalagi jika berkerja jika ikut orang harus mempunyai rencana yang jelas, ketat dalam penggunaan uang. Apalagi saat itu suami sedang resign sehingga otomatis beban ekonomi keluarga menjadi berat.

Akhirnya Eni berpikir harus memiliki usaha sampingan untuk menambah penghasilan. Ia pun berdiskusi dengan suami mengenai keinginannya membuka peluang usaha. Tak disangka ternyata jawaban dari sang suami justru mengaggetkannya. Suaminya bilang,”Kalau kamu pingin punya usaha harus kamu tekuni dengan serius. Tanpa kamu teluni secara serius usahamu tidak akan berhasil dan sukses. Karena kamu juga cuma mikir setengah-setengah. Kalau pingin punya usaha resign dari kerja dan tekuni.”

Sehingga membuat Eni berpikir apakah ini sebuah gertakan atau sungguhan. Hingga beberapa bulan kemudian dia pun memutuskan untuk berhenti berkerja. Dia mengikuti program belajar kuliner di salah satu tempat kursus di Surabaya. Tak hanya itu ia pun mengikuti inkubasi dan mendapatkan bimbingan dari ahli tata boga nasional.

Eni pun membulatkan tekad untuk membuka gerai Risoles Cempluq meskipun sederhana di Jalan Ulerkambang No. 24 Ponorogo. Dengan menggunakan uang pesangon dari perusahaan tempat dia resign dia membuka sebuah peluang usaha Risoles Cempluq. Dengan modal awal yang hanya 20 juta rupiah. Untuk menyewa toko, beli grobak display, kemasan kardus dan plastik aerta, dan cetak brosur  hingga uang pesangonnya habis.

Meski hanya sebuah risoles yang diproduksinya, dia tak ingin risolesnya sama dengan yang ada di pasaran. Karena sudah banyak saingan sehingga kecil kemungkinan mendapatkan keuntungan sehingga dia membuat beberapa varian rasa spicy chicken,meat lover,banana chogo vegy milky, dan cheesy sausage. Selain itu dia pun memproduksi sambel lele Ponorogo dengan merk cempluq.

Untuk memasarkan produk selain di gerainya, Eni harus membawa tester Risoles Cempluq kemana-kemana. Agar orang bisa mencicipinya dan membelinya. Selain itu dia juga dibantu oleh anaknya yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah. Dia turut berjualan di sekolahnya karena ingin membeli sepatu futsal.

Kini usaha risoles cempluqnya pun berjalan lancar. Jika dulu dia hanya berusaha bersama anaknya dan bingung akan dipasarkan ke mana. Kini tidak lagi, Eni sudah memiliki empat karyawan dan beberapa mitra usaha yang ada di kota Semarang, Tulungagung, Jogja, Surabaya dan Solo.

Meski sudah berkembang bukan berarti usahanya tidak memiliki kendala karena risoles tidak tahan lama dan  letak produksi di Ponorogo jauh dari bandara sehingga tidak bisa kirim keluar Jawa. Meski begitu dia tetap melakukan mitra usaha Risoles Cempluq di beberapa kota sehingga risolesnya bisa dibuat langsung di kota yang terletak di luar Jawa.

SHARE
Mengawali karir dari lembaga Pers Mahasiswa. Bergabung denga tim riset untuk menulis berbagai buku. Hobi Photography punya Moto Hidup “Berbagi itu Kesenangan”

LEAVE A REPLY