Aplikasi O2O (Online to Offline) Untuk Bisnis Sampingan yang Bisa Dijalankan Oleh UMKM

Online to offline 020

Berkembangnya teknologi internet, berimbas pada perbagai bisnis terutama bisnis retail. Bisa dibuktikan dengan semakin banyaknya bisnis retail yang ikut menjelajah ke dunia e-commerce atau bisnis jualan online. Tahukah Anda bahwa e-commerce mempunyai model bisnis yang beragam, salah satunya ialah O2O atau online to offline adalah aktivitas dimana pemesanannya dilakukan dengan online dan mengambilnya pada lokasi fisik seperti toko in-store. Konsep ini cukup banyak diadopsi oleh para e-commerce, misalnya matahari.com, Indomaret, dan alfamart. Bukan hanya itu, beberapa startup pun juga mengusung konsep e-commerce ini, diantaranya adalah Kioson dan Kudo.

Kioson

Masyarakat lapisan kedua yang terletak di daerah-daerah sebenarnya memiliki banyak UMKM. Namun sayang mereka kurang pengetahuan digital sehingga jual belinya masih manual. Bahkan banyak diantara mereka buta rekening atau tidak memiliki rekening bank. Alhasil, mereka masih jual beli secara konvensional.

Untuk itu, Kioson sebuah aplikasi yang dibuat oleh Jasin Halim bertujuan untuk menjembatani ekonomi digital di indonesia dengan memberdayakan masyarakat kota lapis ke dua, dalam hal ini adalah pelaku Usaha Kecil Menengah. Kenapa masyarakat lapisan kedua? Karena mereka masih keterbatasan digital, minim pengetahuan teknologi dan perbankan.

Di dalam aplikasi ini, masyarakat tidak hanya bisa merasakan pengalaman berbelanja online melalui situs e-commerce dan aplikasi Kioson, namun juga dapat menjadi payment point, yaitu layanan bagi masyarakat untuk memudahkan pembayaran tagihan rutin, seperti isi usalng pulsa, tagihan air, token listrik dan sebagainya. Semua pembayaran tagihan maupun belanja produk di aplikasi Kioson bisa dilakukan pada mitra Kioson. Dengan begitu, masyarakat akan lebih percaya karena mereka melakukan pembayaran dan pembelian produk di orang yang mereka kenal.

Baca Juga :

Selain itu Kioson bukan hanya mengenalkan aplikasi namun juga turut memecahkan permasalahan yg terjadi dalam UMKM lapisan ke dua yakni kioson sebagai digital infrastructure yang hadir dalam kioson tablet dengan internet conection 3G.

  • Banking penetration yang mengajarkan cash as payment method.
  • Trust customer mengetahui dan percaya kepada tetangganya yang juga retail.
  • Education, Kioson mengedukasi retailers ke ecommerce dan retailers ke consumers.

Aplikasi yang telah launching sejak Agustus 2015 ini kini memang baru ada di Sumatera dan Jawa namun sedang berencana untuk melebarkan sayap ke Sulawesi, Kalimantan dan Provinsi lainnya. Saat ini Kioson telah memiliki 300 mitra UMKM di Jawa Timur sedangkan total keseluruhan UMKM yang telah bergabung dengan Kioson di Provinsi Jawa dan Sumatera total 8000 di bulan Januari 2017. Sementara yang sudah mendownload aplikasi ini sudah mencapai 15.000.

Apa kioson serupa seperti Bukalapak, Tokopedia dan marketplace online lainnya? Jelas Kioson berbeda dengan Bukalapak atau Tokopedia, karena konsep Kioson bukan head to head. Namun, kini Kioson telah terintegrasi dengan OLX. Sehingga mereka bisa membayar pembelian OLX melalui mitra Kioson terdekat.

Tidak hanya itu, kini Kioson juga sudah bekerja sama dengan Sinarmas Multifinance pengajuan kredit dan bisa link. Aplikasi ini bisa diunduh secara gratis di Android dan kabar baik lainnya bagi UMKM yang belum memiliki device maka akan Kioson akan jual kepada mereka dan sudah diinject dengan aplikasi Kioson jadi pelaku bisa langsung menggunakan device tersebut.

Kudo (Kios Untuk Dagang Online)

Selain Kioson, bisnis O2O (online to offline) lainnya juga ada Kudo. Sama seperti Kioson, Kudo adalah startup yang bertujuan untuk menghubungkan penjual online dengan pelanggan offline melalui jaringan agen. Nyatanya meskipun secara pengguna teknologi dan internet di Indonesia sudah menanjak naik, tetapi masih banyak masyarakat yang belum terlalu mahir dengan teknologi, ditambah kurangnya edukasi tentang keamanan belanja online masih jadi bayang-bayang pengusaha dan pembeli. Jadi dengan Kudo baik pembeli dan penjual dipastikan dapat bertansaski secara aman dengan meberdayakan wirausaha bahkan seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga : menghasilkan uang dari online menjadi publisher 

Di dalam aplikasi Kudo, baik pelanggan maupun agen bisa memilih lebih dari 2 juta produk dengan kategori-kategori yang beragam. Selain itu, dengan Kudo mitra bisa melakukan pembayaran tagihan, pembelian pulsa handphone, kupon dan voucher, serta pembayaran listrik, asuransi dan lainnya. Proses pembeliannya dan pembayaran produk melalui Kudo pun cukup mudah, yaitu:

  • Pelanggan menentukan produk yang ingin dibeli pada aplikasi Kudo kemudian menghubungi agen langsung atau malalui penawaran yang dilakukan oleh agen.
  • Selesai produk dipilih, maka agen akan memproses pesanan melalui Kudo.
  • Pelanggan melakukan transaksi kepada agen dengan sistem pembayaran yang sudah disepakati.
  • Nilai transaksi diambil dari saldo kudo (yang dimiliki agen) setelah dipotong komisi agen.
  • Terakhir merchant akan memproses pemesanan dan langsung mengirimkannya ke pelanggan.

Jadi, pelanggan bisa berbelanja aman dengan sistem pembayaran yang sangat mudah tanpa harus menggunakan rekening bank.

Lalu bagaimana agen mendapatkan komisi penjualan?

Bagi masyarakat yang menjadi agen dari KUDO akan mendapatkan komisi setiap kali adanya transaksi. Besarnya komisi bisanya tergantung poduk yang dibeli oleh pelanggan. Tidak hanya komisi penjualan produk, Kudo juga memberikan tawaran yang sangat menarik, salah satunya adalah bonus yang akan diberikan untuk agen yang berpredikat sebagai tanda pengapreasiasian Kudo terhadap agen-agen yang tekun mempromosikan produk Kudo.

Demi mengoptimalkan sistem, Kudo pun mengembangkan fitur mobile appsnya dengan menambahkan Dompet Kudo dan Pelangganku untuk agen dan pelanggan. Dompet Kudo, ialah akun bagi setiap pelanggan Kudo untuk menyimpan saldo Kudo Cashback dari setiap transaksi yang dilakukan di Kudo. Sedangkan untuk Pelangganku adalah fitur daftar transaksi agen, jadi agen tidak perlu melakukan pencatatan secara manual.

Di awal peluncuran, Kudo berhasil mengajak 20 Agen yang secara aktif mencai orang yang ingin membeli barang lewat platform e-commercenya. Pada pertengahan 2015 setelah aplikasi berbasis Android dan iOS diluncurkan, Kudo mendapatkan 4.500 agen. Per September tahun 2016, jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat, mencapai 120 ribu orang dan kemungkinan jumlahnya akan terus berkembang.

LEAVE A REPLY